Langsung ke konten utama

Teori Pemprosesan Informasi menurut gagne dan atkinson

Teori Pemprosesan Informasi menurut gagne dan atkinson 
 

Image result for gambar komputer media pembelajaran


Dalam suatu kegiatan belajar, seseorang menerima informasi dan kemudian mengolah informasi tersebut di dalam memori. Atkinson dan Shiffrin (1968) mengajukan suatu teori atau model tentang pemrosesan informasi dalam memori manusia yang menyatakan bahwa informasi diproses dan disimpan dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu Sensory Memory, Short-term Memory, dan Long-term Memory (Huit, 2003; Flavell, 1985; Woolfolk, 2004; Gagne, 1985). Model pemrosesan informasi Atkinson dan Shiffrin ini dapat digambarkan dengan diagram sebagai berikut .
                         
Gambar Model pemrosesan informasi

Sensory Memory (SM)
Informasi masuk ke dalam sistem pengolah informasi manusia melalui berbagai saluran sesuai dengan inderanya. Sistem persepsi bekerja pada informasi ini untuk menciptakan apa yang kita pahami sebagai persepsi. Karena keterbatasan kemampuan dan banyaknya informasi yang masuk, tidak semua informasi bisa diolah. Informasi yang baru saja diterima ini disimpan dalam suatu ruang sementara (buffer) yang disebut sensory memory. Durasi suatu informasi dapat tersimpan di dalam sensory memory ini sangat singkat, kurang dari 1/2 sekon untuk informasi visual dan sekitar 3 sekon untuk informasi audio. Tahap pemrosesan informasi tahap pertama ini sangat penting karena menjadi syarat untuk dapat melakukan pemrosesan informasi di tahap berikutnya, sehingga perhatian pembelajar terhadap informasi yang baru diterimanya ini menjadi sangat diperlukan. Pembelajar akan memberikan perhatian yang lebih terhadap informasi jika informasi tersebut memiliki fitur atau ciri khas yang menarik dan jika informasi tersebut mampu mengaktifkan pola pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge).

Short-term Memory (STM) atau \"Working Memory\"
Short-term memory atau working memory berhubungan dengan apa yang sedang dipikirkan seseorang pada suatu saat ketika menerima stimulus dari lingkungan. Durasi suatu informasi tersimpan di dalam short-term memory adalah 15 – 20 sekon. Durasi penyimpanan di dalam short-term memory ini akan bertambah lama, bisa menjadi sampai 20 menit, jika terdapat pengulangan informasi. Informasi yang masuk ke dalam short-term memory berangsur-angsur menghilang ketika informasi tersebut tidak lagi diperlukan. Jika informasi dalam short-term memory ini terus digunakan, maka lama-kelamaan informasi tersebut akan masuk ke dalam tahapan penyimpanan informasi berikutnya, yaitu long-term memory.

Long-term Memory (LTM)
Long-term memory merupakan memory penyimpanan yang relatif permanen, yang dapat menyimpan informasi meskipun informasi tersebut mungkin tidak diperlukan lagi. Informasi yang tersimpan di dalam long-term memory diorganisir ke dalam bentuk struktur pengetahuan tertentu, atau yang disebut dengan schema. Schema mengelompokkan elemen-elemen informasi sesuai dengan bagaimana nantinya informasi tersebut akan digunakan, sehingga schema memfasilitasi akses informasi di waktu mendatang ketika akan digunakan (proses memanggil kembali informasi). Dengan demikian, keahlian seseorang berasal dari pengetahuan yang tersimpan dalam bentuk schema di dalam long-term memory, bukan dari kemampuannya untuk melibatkan diri dengan elemen-elemen informasi yang belum terorganisasi di dalam long-term memory (Merrienboer dan Sweller, 2005).
Penyimpanan informasi dalam long-term memory dapat diumpamakan seperti peristiwa yang terjadi pada penulisan data ke dalam disket atau hardisk komputer atau pun perekaman suara ke dalam kaset. Kapasitas penyimpanan dalam long-term memory ini dapat dikatakan tak terbatas besarnya dengan durasi penyimpanan seumur hidup. Kapasitas penyimpanan disebut tak terbatas dalam arti bahwa tidak ada seseorang pun yang pernah kekurangan “ruang” untuk menyimpan informasi baru, berapa pun umur orang tersebut. Durasi penyimpanan seumur hidup diartikan sebagai informasi yang sudah masuk di dalam long-term memory tidak akan pernah hilang, meskipun bisa saja terjadi informasi tersebut tidak berhasil diambil kembali (retrieval) karena beberapa alasan.

APLIKASI MODEL PENGAJARAN PEMROSESAN INFORMASI DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Menurut Robert M. Gagne mengemu- kakan ada delapan fase proses pembelajaran. Kedelapan fase itu sebagai berikut.
 1. Motivasi yaitu fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tententu (motivasi intrinsik dan ekstrinsik).
2. Pemahaman, yaitu individu menerima dan memahami Informasi yang diperoleh dari pembelajaran. Pemahaman didapat melalui perhatian
. 3. Pemerolehan, yaitu individu memberikan makna/mempersepsi segala Informasi yang sampai pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori peserta didik.
 4. Penahanan, yaitu menahan informasi/ hasil belajar agar dapat digunakan untuk jangka panjang. Hal ini merupakan proses mengingat jangka panjang.
 5. Ingatan kembali, yaitu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada rangsangan
6. Generalisasi, yaitu menggunakan hasil pembelajaran untuk keperluan tertentu.
7. Perlakuan, yaitu perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran
 8. Umpan balik, yaitu individu memperoleh feedback dari perilaku yang telah dilakukannya.

Selain itu ada sembilan langkah yang harus diperhatikan guru di kelas dalam kaitannya dengan pembelajaran pemrosesan informasi. 
a. Melakukan tindakan untuk menarik perhatian peserta didik. 
b. Memberikan informasi mengenai tujuan pembelajaran dan topik yang dibahas. 
c. Merangsang peserta didik untuk memulai aktivitas pembelajaran. Aminah Rehalat, Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi 10 
d. Menyampaikan isi pembelajaran sesuai dengan topik yang telah dirancang.
 e. Memberikan bimbingan bagi aktivitas peserta didik dalam pembelajaran. f. Memberikan penguatan pada perilaku pembelajaran.
 g. Memberikan feedback terhadap perilaku yang ditunjukkan peserta didik. 
 h. Melaksanakan penilaian proses dan hasil. 
 i. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya dan menjawab berdasarkan pengalamannya. 

Permasalahan
1. apakah setiap individu memiliki perbedaan dalam mengolah meori jangka pendek dan jangka panjang ? jelaskan 
2. berikan aplikasi pembelajaran yang berkaitan dengan memori jangka pendek ?
3. apakah memori jangka pendek maupun jangka panjang sudah dapat dibentuk ketika usianya masih anak- anak ?





















Komentar

  1. Saya akan menjawab permasalahan nomor 3

    Ya bisa
    Berikut ini akan diuraikan beberapa komponen penting dari memori anak-anak usia prasekolah,terutama memori jangka pendek dan memori jangka panjang.

    Memori Jangka Pendek : alam memori jangka pendek, individu menyimpan informasi selama 15 hingga 30 detik, dengan asumsi tidakk ada latihan atau pengulangan. Memori jangka pendek ini sering diukur dengan rentang memori, yaitu jumlah item yang dapat diulang kembali dengan tepat sesudah satu penyajian tunggal. Maeri yang dipakai merupakan rangkaian urutan yang tidak berhubungan satu sama lain, berupa angka, huruf, atau symbol. Tes rentang memori pada umumnya dimsukkan kedalam tes intelegensi yang dilakukan item-itemnya (Chaplin, 2002)
    Memori Jangka Panjang: Pada umumnya anak-anak yang masih kecil memiliki kemampuan memori rekognisi – suatu kesadaran bahwa suatu objek, seseorang, atau suatu peristiwa ituu sudah dikenalnya atau pernah dipelajarinya pada masa lalu –tetapi kurang mampu dalam memori recall- proses memanggil atau menimbulkan kembali dalam ingatan sesuatuyang tealh dipelajari. Dalam studi yang dilakukan oleh Brown dan Scorr, terlihat bahwa anak usia 4 tahun mencapai ketetapan 75% dari waktunya dalam merekognisi gambar-gambaryang telah diperlihatkan satu minggu sebelumnya. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa anak-anak memiliki rekognisi yang baik sekalipun telah mengalami penundaan untuk jangka waktu yang lama (Matlin, 1994).

    BalasHapus
  2. Saya akan mencoba menjawab permasalahan yang pertama. iya ada, yang mana perbedaan kemampuan mengingat seseorang ditinjau dari gaya belajarnya. Seseorang dalam belajar idealnya tidak hanya tergantung pada satu cara atau satu gaya belajar saja namun dapat memadukan beberapa atau semua gaya belajar. Hal tersebut karena diharapkan semua organ tubuh kita dapat bekerja aktif dan seimbang. Informasi yang diperoleh dapat masuk dan disimpan dalam otak dengan baik. Kemudian jika dibutuhkan sewaktu-waktu informasi tersebut dapat dikeluarkan dari ingatan dengan baik pula. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa seseorang tersebut mempunyai kemampuan mengingat yang baik. Kenyataan yang terjadi banyak orang atau siswa cenderung pada satu gaya belajar saja dalam proses belajarnya. Hal tersebut menjadikan informasi yang ada
    menjadi kurang baik diterima dan disimpan dalam otak. Hal tersebut karena tidak semua organ tubuh bekerja aktif dan tidak bekerja seimbang sehingga pada materi-materi tertentu dan pada saat salah satu organ tubuh terganggu tidak dapat melakukan proses belajar dengan baik. Sebagai contoh untuk materi olahraga tidak hanya perlu mempraktekkan di lapangan tetapi juga perlu mempelajari teori di dalam kelas. Saat tangan sedang sakit sehingga tidak bisa menulis maka dapat belajar dengan melihat dan mendengarkan penjelasan guru di depan kelas.

    BalasHapus
  3. Baiklah ayu saya akan menjawab permasalahan anda no 2 yaitu aplikasi pembelajaran yang bersifat jangka pendek :
    contohnya yaitu multimedia ppt yang hanya menampilkan kata-kata di slide , pembaca hanya ingat seperkian detik - 20 menit paling lama setelah slide di lanjutkan maka si pembaca akan mulai lupa bahkan sampai tidak ingat sama sekali apa yang ditampilkan sebelumnya , solusinya yaitu dengan mengulang kembali berkali-kali slide yang yang ditampilkan sehingga lebih lama diingat .

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip dasar multimedia pembelajaran

  Prinsip Dasar Multimedia Pembelajaran Menurut Mayer dan Moreno (2003), prinsip-prinsip ini adalah praktek-praktek terbaik untuk mengurangi beban kognitif siswa - ketika tuntutan pengolahan melebihi kemampuan pemrosesan mereka. Dengan kata lain, strategi ini dapat digunakan ketika penggunaan kata-kata, gambar, dan media dalam pembelajatan online lebih merangsang dan menghambat pembelajaran. M enggunakan 12 Prinsip Mayer dalam Kelas Apakah Anda mengajar TK atau di pendidikan tinggi, apakah di kelas fisik atau pada platform online, maka penting untuk menerapkan 12 prinsip Mayer ketika bekerja di lingkungan belajar digital dengan siswa Anda. Berikut adalah cara untuk menggunakan prinsip-prinsip ini di dalam kelas Anda: 1. Prinsip Koheren Siswa belajar terbaik ketika kata-kata asing, gambar, dan media dieliminasi. Ketika membuat pembelajaran online atau presentasi, pastikan untuk membatasi layar Anda hanya dengan informasi penting saja....

landasan teoritis multimedia pembelajaran

A. Pengertian Multimedia pembelajaran Media pembelajaran intinya ialah sebuah sarana agar dapat menyampaikan sebuah makna , dari sarana tersebut akan menimbulkan sebuah konsep dan konsep tersebut mampu dibangun oleh penerima  media. Multimedia pembelajaran Multimedia pembelajaran  merupakan media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafi,gambar,, foto, audio, animasi, secara terintegrasi. B. Landasan Penggunaan Media Menurut Piaget dalam Slameto (2010: 13) menyampaikan bahwa ada tiga tahap perkembangan mental anak, yaitu: 1) berfikir secara intuitif + 4 tahun, 2) beroprasi secara kongkrit + 7 tahun, 3) beroprasi secara formal + 11 tahun. Proses pembelajaran di lingkungan belajar siswa harus disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa. Anak usia sekolah dasar umumnya berada pada tahap perkembangan mental beroprasi secara kongkrit. Oleh sebab itu pada pembelajarana di sekolah dasar guru harus memberikan kondisi pembelajaran yan...