Langsung ke konten utama

landasan teoritis multimedia pembelajaran

A. Pengertian Multimedia pembelajaran
Media pembelajaran intinya ialah sebuah sarana agar dapat menyampaikan sebuah makna , dari sarana tersebut akan menimbulkan sebuah konsep dan konsep tersebut mampu dibangun oleh penerima  media.
Multimedia pembelajaran
Multimedia pembelajaran  merupakan media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafi,gambar,, foto, audio, animasi, secara terintegrasi.

B. Landasan Penggunaan Media
Menurut Piaget dalam Slameto (2010: 13) menyampaikan bahwa ada tiga tahap perkembangan mental anak, yaitu: 1) berfikir secara intuitif + 4 tahun, 2) beroprasi secara kongkrit + 7 tahun, 3) beroprasi secara formal + 11 tahun. Proses pembelajaran di lingkungan belajar siswa harus disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa. Anak usia sekolah dasar umumnya berada pada tahap perkembangan mental beroprasi secara kongkrit. Oleh sebab itu pada pembelajarana di sekolah dasar guru harus memberikan kondisi pembelajaran yang nyata.
Media pembelajaran dapat digunakan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang nyata. Dengan penggunaan media pembelajaran, pesan yang sifatnya abstrak dapat diubah menjadi pesan yang kongkrit. Misalnya guru menyampaikan pesan tentang teknik membaca memindai, ketika guru hanya menjelaskan maka siswa akan kesulitan memahami teknik membaca memindai, namun ketika guru menggunakan sebuah majalah, buku atau koran sebagai media dan menunjukan secara langsung bagaimana teknik membaca memindai, maka siswa mudah menerima pesan yang disampaikan guru.
Selanjutnya, landasan teori penggunaan media dalam proses belajar disampaikan oleh Dale (1969) dalam Arsyad (2013:  13) yaitu Dale’s Cone of experience (Kerucut Pengalaman Dale) “Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tingkatan pengalaman yang dikeluarkan oleh Burner”. Dalam kerucut tersebut dijelaskan bahwa pengalaman secara langsung (kongkrit) memberikan hasil belajar paling tinggi. Dilanjutkan oleh benda tiruan, dramatisasi, karyawisata, televisi, gambar hidup pameran, gambar diam, lambang visual dan lambang kata (abstrak) yang memberikan porsi paling sedkit. Meskipun begitu  Arsyad (2013: 13) menyampaikan bahwa urutan-urutan ini tidak berarti proses belajar dan interaksi mengajar belajar harus selalu pengalaman langsung, tetapi dimualai dari pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan. Untuk lebih jelasnya berikut ini merupakan Kerucut Pengalaman Dale.


C. Klasifikasi Multimedia Pembelajaran
 Daryanto (2010: 51) menyatakan bahwa multimedia terbagi ke dalam dua kategori, yaitu multimedia linier dan multimedia interaktif. Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan secara sekuensial (berurutan), contohnya TV. Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif adalah pembelajaran interaktif, aplikasi game, dan lainlain. Rudi Susilana & Cepi Riyana (2008: 22) menyatakan multimedia dibagi menjadi dua bentuk, yaitu media objek dan media interaktif. Media objek merupakan media tiga dimensi yang menyampaikan informasi tidak dalam bentuk penyajian, melainkan melalui ciri fisik. Media interaktif merupakan media yang mengajak siswa untuk berinteraksi selama mengikuti pembelajaran. interaksi dilakukan dengan tiga tipe, yaitu interaksi dengan program, interaksi dengan mesin serta interaksi antara siswa.
Selain kedua pendapat tersebut, Iwan Binanto (2010: 2) menyampaikan klasifikasi multimedia secara lebih lengkap, yaitu : 
1. Multimedia interaktif Pengguna dapat mengontrol apa dan kapan elemen-elemen multimedia akan ditampilkan. 
2. Multimedia hiperaktif Multimedia jenis ini mempunyai suatu struktur dari elemenelemen terkait dengan pengguna yang dapat mengarahkannya. Dapat dikatakan bahwa multimedia jenis ini mempunyai banyak tautan (link) yang menghubungkan elemen-elemen multimedia yang ada.
 3. Multimedia linear Pengguna hanya menjadi penonton dan menikmati produk multimedia yang disajikan dari awal hingga akhir. 
D.Manfaat Multimedia Pembelajaran
 Manfaat multimedia pembelajaran didasarkan pada keunggulan dari multimedia. Multimedia yang dipilih, dikembangkan dan digunakan secara tepat dan baik akan memberi manfaat yang besar bagi guru dan siswa. Hal tersebut dikemukakan oleh Daryanto (2010: 52) yang menyatakan bahwa manfaat yang dapat diperoleh adalah proses pembelajaran lebih menarik,
interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar dapat ditingkatkan, serta proses pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Selain itu, penggunaan multimedia juga dapat memberikan manfaat bagi tahapan berfikir siswa, sebab melalui multimedia, hal yang abstrak dapat diubah menjadi konkret, dan hal yang kompleks dapat disederhanakan (Nana Sudjana, 2009: 5). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa multimedia mampu menjadi alat bantu belajar siswa yang memberikan kemudahan siswa untuk memahami materi pembelajaran yang kompleks. Selain itu penyajian materi dapat bervariasi, sehingga siswa akan tertarik untuk belajar.  
E, Kelebihan dan Kelemahan Multimedia Pembelajaran  
Multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kelemahan. Menurut Munir (2009: 214) beberapa kelebihannya yaitu: 
1) Multimedia menyediakan proses interaktif dan memberikan umpan balik. 
2) Multimedia memberikan kebebasan kepada pembelajar dalam menentukan topik proses belajar. 
3) Multimedia memberikan kemudahan kontrol yang sistematis dalam proses belajar. 
Penggunaan multimedia dapat membuat daya ingat siswa tarhadap materi pembelajaran meningkat. Hal tersebut dikarenakan multimedia memadukan berbagai jenis media, seperti animasi. Animasi dalam multimedia dapat membantu proses kognitif siswa. Selain itu, multimedia dapat mengatasi keberagaman gaya dan modalitas belajar siswa, yaitu tipe visual, auditif dan kinestetik. 21 Tipe dan gaya belajar tersebut dapat diatasi dengan multimedia yang di dalamnya mengandung unsur audio dan visual (Dina Indriana, 2011: 97-98). 
Selain kelebihan, multimedia juga memiliki kelemahan. Kelemahan multimedia menurut Dina Indriana (2011: 98) yaitu penyiapan media membutuhkan biaya yang cukup mahal dan penggunaan multimedia memerlukan perencanaan yang matang dan tenaga yang profesional di bidangnya. Kelemahan multimedia tersebut sesuai dengan pendapat Rudi Susilana & Cepi Riyana (2008: 22). Peneliti memilih pendapat dari Munir karena multimedia memang memiliki kelebihan untuk memberikan kemudahan kontrol belajar bagi siswa. Kemudahan tersebut mencakup kemudahan dalam mengoperasikan, kemudahan dalam berinteraksi dan kemudahan dalam memilih topik belajar. Sehingga multimedia sangat tepat untuk digunakan sebagai media pembelajaran IPS
Permasalahan  
1.Dalam sebuah proses pembelajaran biasanya seorang guru kesulitan dalam menggunakan media pembelajaran, apakah yang menyebabkan guru tidak cendrung pasif dan jarang menggunakan multimedia pembelajaran ?
2. menurut anda apakah kesulitan dalam mengembangkan multimedia pembelajaran ?
3. Bagaimana sebagai seorang guru mengatasi minimnya multimedia pembelajaran yang disuatu sekolah ? ( menurut pendapat anda) 

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran. Depok: PT RAJAGRAFINDO PERSADA

Daryanto. 2013. Media Pembelajaran Perannya Sangat Penting Dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran. Yogyakarta: GAVA MEDIA

Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Sudjana, Naana dan Rivai, Ahmad. 2013. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset
http://www.karyatulisku.com/2017/10/media-pembelajaran.html
 file:///C:/Users/AYU/Downloads/Documents/4.%20BAB%20II%2010416241024.pdf
http://www.karyatulisku.com/2017/10/media-pembelajaran.html

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Saya akan menjawab permasalahan pertama
    Dalam memanfaatkan media pembelajaran banyak sekali permasalahan yang dihadapi dan itu seperti dibahas oleh penulis pada pembahasan terdahulu bahwa segala sesutu hal yang bersifat baru pasti terdapat resiko yang harus dihadapi, salah satunya adalah ada pada pendidik itu sendiri. Banyaknya media (terutama media modern) tidak memanjamin guru termotivasi untuk menggunakanya, bahkan semakin berat beban mental guru karena belum bisa menggunakannya, di sisi lain guru tidak mencari jalan keluar. Seperti kurang kreatifnya guru dalam membuat alat peraga atau media pembelajaran yang ia kembangkan sendiri (jika ia tidak mau menggunakan media modern yang telah ada). Dan banyak dijumpai masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah saja dalam pembelajarannya, tak ada media lain yang digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Disinalah cermin bahwa guru mendefinisikan sebagai manusia superpower karena dirinya adalah sumber belajar sekaligus media pembelajaran satu-satunya yang tidak ada gantinya. Banyak diantara pendidik yang tak pernah berpikir untuk membuat sendiri media pembelajarannya. Jika 80% guru kreatif di suatu lembaga pendidikan di Indonesia pasti akan banyak ditemukan berbagai alat peraga dan media yang tersedia untuk menyampaikan materi pembelajarannya di sekolah. Guru yang kreatif tak akan pernah menyerah dengan keadaan. Kondisi minimnya dana justru membuat guru itu kreatif memanfaatkan sumber belajar lainnya yang tidak hanya berada di dalam kelas, seperti : Masjid, pasar, museum, lapangan olahraga, sungai, kebun, dan lingkungan sekitar lainnya.

    Namun pada kenyataannya sekarang ini belum semua guru yang ada di sekolah memanfaatkan sumber belajar ini secara optimal. Masih banyak guru yang mengandalkan cara mengajar dengan paradigma lama, dimana guru merasa satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Inilah yang terjadi pada kebanyakan guru-guru di Indonesia. Pemanfaatan sumber belajar lainnya dirasakan kurang. Sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan ( learning resources by utilization), juga belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Padahal banyak sumber belajar yang dapat dimanfatkan oleh guru guna membantu proses pembelajarannya. Contohnya, dalam film Laskar Pelangi. Ibu muslimah tidak hanya sebagai pusat sumber belajar berupa orang, tetapi juga dapat mengarahkan siswanya untuk melihat sumber belajar yang lain, seperti Langit yang kebetulan ada pelanginya, Laut yang luas, dan suasana kedaerahan Belitong dijadikan juga sumber belajar.[6] Dan inilah bukti guru yang menjadi motivator dan inspirator bagi lingkungannya.

    Di samping memanfaatkan sumber belajar yang ada, guru dituntut untuk mencari dan merencanakan sumber belajar lainnya baik hasil rancangan sendiri ataupun sumber yang sudah tergelar di sekililing sekolah dan masyarakat. Masih banyaknya guru yang kurang berminat menggunakan media pembelajaran berimplikasi pada pola pembelajaran yang monoton dan menjenuhkan

    BalasHapus
  3. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no 2, menurut literatus yg saya baca yaitu Problematika yang berkaitan dengan media pembelajaran itu menyangkut 5 W 1 H, yaitu:
    1. Probelamatika Who (siapa), menyangkut pendidik dan anak didik dalam meanfaatkan media pembelajaran.
    2. Problematika Why (mengapa), menyangkut pelaksanaan pemanfaatan media pembelajaran.
    3. Problematika Where (di mana), menyangkut tempat pemanfaatan media pembelajaran, di sekolah atau lingkuangan luar sekolah.
    4. Problematika When (bilamana/kapan), menyangkut pengaturan waktu dalam pelaksanaan pemanfaatan media pembelajaran, juga menyangkut usia peserta didik dalam menentukan pemeilihan media.
    5. Problematika What (apa), menyangkut dasar, tujuan dan bahan/materi media pembelajaran itu sendiri.
    6. problematika How (bagaimana), menyangkut cara/metode yang digunakan dalam proses pemanfaatan media pembelajaran, berhubung peserta didik mempunyai sifat dan bakat yang berbeda-beda dalam proses pembelajaran

    BalasHapus
  4. saya akan mencoba menjawab persoalan nomor 3
    Secaca fisik dapat berupa sarana dan prasarana yang belum memadai terutama untuk sekolah-sekolah yang berlokasi di pelosok. kalaupun sudah ada sarana dan prasarana, tetapi masih sangat minim baik dari segi jumlah maupun segi mutu peralatan tersebut.Masih digunakannya perangkat multimedia bekas di lembaga-lembaga pendidikan yang terdapat di daerah pedesaan. Perangkat multimedia bekas ini tentunya masih menggunakan spesifikasi yang sudah tertinggal jamannya. Sehingga penggunaannya tidak mampu bersaing dengan laju perkembangan TIK yang begitu pesat.
    Seperti yang disebutkan dalam bagian pertama pembahasan, yaitu arti TIK bagi dunia pendidikan berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun, kenyataannya di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan TIK. Hal ini disebabkan adanya berbagai kendala yang ada dalam usaha pemanfaatan TIK di dunia pendidikan Indonesia. Hal ini membuktikan ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti Amerika dan Cina. Di negara tersebut, penggunaan TIK dalam proses pembelajaran sudah merupakan hal yang lazim.

    Oleh sebab itu, kita bersama-sama dengan pemerintah dan pihak lainnya harus saling bahu-membahu dalam penyelenggaraan pemanfaatan TIK di dunia pendidikan Indonesia. Karena teknologi informasi dan komunikasi menjadi kunci untuk menuju sekolah masa depan yang lebih baik.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Pemprosesan Informasi menurut gagne dan atkinson

Teori Pemprosesan Informasi menurut gagne dan atkinson    Dalam suatu kegiatan belajar, seseorang menerima informasi dan kemudian mengolah informasi tersebut di dalam memori. Atkinson dan Shiffrin (1968) mengajukan suatu teori atau model tentang pemrosesan informasi dalam memori manusia yang menyatakan bahwa informasi diproses dan disimpan dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu Sensory Memory , Short-term Memory , dan Long-term Memory (Huit, 2003; Flavell, 1985; Woolfolk, 2004; Gagne, 1985). Model pemrosesan informasi Atkinson dan Shiffrin ini dapat digambarkan dengan diagram sebagai berikut .                           Gambar Model pemrosesan informasi Sensory Memory (SM) Informasi masuk ke dalam sistem pengolah informasi manusia melalui berbagai saluran sesuai dengan inderanya. Sistem persepsi bekerja pada informasi ini untuk menciptakan...

Prinsip dasar multimedia pembelajaran

  Prinsip Dasar Multimedia Pembelajaran Menurut Mayer dan Moreno (2003), prinsip-prinsip ini adalah praktek-praktek terbaik untuk mengurangi beban kognitif siswa - ketika tuntutan pengolahan melebihi kemampuan pemrosesan mereka. Dengan kata lain, strategi ini dapat digunakan ketika penggunaan kata-kata, gambar, dan media dalam pembelajatan online lebih merangsang dan menghambat pembelajaran. M enggunakan 12 Prinsip Mayer dalam Kelas Apakah Anda mengajar TK atau di pendidikan tinggi, apakah di kelas fisik atau pada platform online, maka penting untuk menerapkan 12 prinsip Mayer ketika bekerja di lingkungan belajar digital dengan siswa Anda. Berikut adalah cara untuk menggunakan prinsip-prinsip ini di dalam kelas Anda: 1. Prinsip Koheren Siswa belajar terbaik ketika kata-kata asing, gambar, dan media dieliminasi. Ketika membuat pembelajaran online atau presentasi, pastikan untuk membatasi layar Anda hanya dengan informasi penting saja....